Senin, 01 April 2013

Sekilas Perjalanan Saya Dan Tuneeca

Sekilas Perjalanan Saya Dan Tuneeca

Tuneeca adalah brand produk fesyen muslim yang mempunyai segmen pasar kelas menengah, wanita berumur 20-40tahun. Semenjak saya mulai berkarier sebagai asisten desainer di perusahaan fesyen di Tangerang. Selama saya berkarier di sana, banyak sekali hal-hal baru yang saya pelajari di sana. Bagaimana mendesain yang diturunkan ke produk contoh, bagaimana mendaurulang  produk yang cacat sehingga mampu diterima oleh pasar kembali.
Tidak bertahan lama di sana, saya pindah ke tempat kerja yang saya idam-idamkan untuk bekerja, yaitu salah satu perusahaan fesyen muslim terkemuka di Jakarta.  Harapan saya, saya bisa berkarya untuk menciptakan desain-desain idealis saya untuk dibuat menjadi suatu produk. Harapan itu ternyata tidak seperti yang saya perkirakan, kebanyakan desain-desain yang saya ciptakan konsepnya, tidak disetujui, dan perusahaan meminta desain tidak jauh-jauh dari pakem mereka. Karena merasa ide-ide saya tidak berkembang, akhirnya setelah satu tahun saya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.
Setelah saya mengundurkan diri, saya diajak untuk bergabung menjadi reporter fesyen  di perusahaan majalah muslim di Jakarta. Selama bekerja di sana, saya merasa bebas berkarya, banyak ide-ide saya yang terpakai di sana, saya merasa budaya perusahaan ini adalah ‘saya’. Namun bekerja di sini hanya sebagai stylish fashion dan membuat artikel tentang fesyen, selang 1,5 tahun saya bekerja di sana saya merasakan kejenuhan dan ingin kembali membuat desain. Dan, akhirnya saya mengundurkan diri pada tahun 2007, genap 1,5 tahun saya bekerja di redaksi majalah tersebut.
Tak lama setelah saya mengundurkan diri dari perusahaan itu, saya dengan dua  teman kuliah saya mendirikan usaha. Usaha tersebut bergerak dibidang konsultan desain, yang menawarkan perusahaan-perusahaan garmen untuk dibuatkan desain dan contoh  untuk produk-produk barunya. Karena menurut saya pekerjaan ini terlalu ribet dan kompleks sehingga memakan waktu yang sangat panjang, sehingga usaha ini tidak berjalan lama, enam  bulan kami tutup.
Pada Januari  2008, saya bersama adik dan teman-temannya di Bandung mendirikan usaha baru. Awalnya, usaha ini bergerak di bidang ekspor, dengan penjualan sistem online di salah satu market place terbesar di dunia. Tim yang merintis usaha ini berjumlah tiga  orang, sudah termasuk saya. Masing-masing orang mempunyai peran sendiri, saya sebagai desainer dan penanggung jawab produksi. Orang yang kedua, yaitu adik saya, mengelola usaha, dan sebagai tenaga penjual. Dan orang yang ketiga, yaitu teman adik, bertanggung jawab di sistem IT.
Karena dengan model bisnis yang pertama itu gagal, maka di Maret 2008, saya dan tim mengubah strategi, saya memproduksi sedikit kuantitas, lima  model yang permodelnya 35pcs, kemudian kami coba tes pasar dengan memasukkan ke beberapa toko. Harga banderol baju-baju tersebut rata-rata berkisar di Rp 110.000.  Di saat itulah, muncul nama Tuneeca sebagai merknya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar